Dampak Trauma Terhadap Tingkah Laku
Mei 1, 2008 oleh fifiani
Dampak Trauma Terhadap Tingkah Laku
Pelajaran
Pelajaran
Perbedaan Kesehatan Emosi
Alat Peraga 6-1
Langkah pertama dalam merencanakan intervensi bagi anak-anak dalam krisis, adalah bisa mengerti tanggapan-tangapan dan kebutuhan secara psikologis dari anak-anak yang diakibatkan dari trauma yang mereka alami. Karena anak bereaksi berbeda terhadap trauma, kita harus mengerti perbedaan dalam taraf kesehatan emosional di antara —
- Anak-anak sehat pada waktu tidak mengalami trauma
- Anak-anak yang traumatis namun tetap sehat emosional
- Anak-anak traumatis yang menunjukkan gejala adanya persoalan emosional
- Anak-anak yang toidak menunjukkan adanya gejala persoalan emosional
Menemukan seperti apa anak-anak dalam setiap kelompok ini akan menolong para pendamping mengerti berbagai dampak pada perpikiran, perasaan, dan tingkah laku anak-anak yang mengalami trauma. Informasi ini merupakan dasar dari pembuatan rencana untuk intervensi.
Kita harus ingat bahwa sejumlah krisis, konflik, kerisauan, agresi, dan ketakutan merupakan bgaian perkembangan anak-anak normal. Namun trauma mengubah konteks dan arti semua ini bagi kesehatan emosional anak-anak.
Anak Yang Sehat Emosional
Alat Peraga 6-2
Titik permulaan mengerti bagaimana anak-anak berubah dalam cara berpikir dan bertingkah lakunya sewaktu trauma adalah dengan mengerti seperti apakah seorang anak yang sehat — sehat tidak saja dari segi fisik tetapi juga dari segi psikologis dan sosial. Kita perlu mengetahui seberapa sehat anak berpikir, merasa, mengekspresikan emosinya, dan berinteraksi dengan orang lain.
Pada anak-anak sehat, kulit depan dari lingkaran transparan, seperti kaca, memperbolehkan Anda untuk melihat ke dalam pikiran mereka. Anda dapat mengerti sebagian besar apa yang sedang mereka pikirkan dengan mendengarkan pembicaraan mereka, dengan mengobservasi reaksi mereka terhadap orang dan situasi dan dengan mencatat isi permainan mereka.
Anak sehat adalah —
- Komunikator yang baik, dapat mengkomunikasikan perasaan mereka yang sesungguhnya dan pikiran yang murni langsung kepada orang, khususnya kepada mereka yang dipercaya.
- Merupakan bagian dari keluarga dengan hubungan yang kuat pada orang tua dan orang yang yang penting bagi mereka.
- Dimasukkan dalam jaringan hubungan dan sistem keamanan; mereka tahu bahwa masyarakat disiapkan untuk melindungi mereka pada saat orang tua mereka gagal melakukannya. Pengetahuan ini membawa mereka pada rasa aman, keamanan dan kesejahteraan, semua bermanfaat bagi kesehatan emosional mereka.
Rasa dimiliki dan dipercaya memungkinkan anak-anak untuk mengkomunikasikan perasaan dan pikiran mereka kepada orang lain.
Anak-anak dalam Trauma
Alat perasa 6-3
Apa yang terjadi pada anak sehat yang menghadapi trauma? Pertama, kita harus ingat bahwa tidak semua anak-anak bereaksi terhadap kekerasan dan trauma dengan cara yang sama. Trauma biasanya terdiri dari beberapa peristiwa, bukan pada suatu peristiwa saja, yang mempengaruhi anak dengan cara yang berlainan. Dari sudut pandang anak, trauma dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori seperti yang ditunjukkan dalam siklus kekerasan.
Kekerasan
Kebanyakan anak-anak dalam trauma mengalami dan menjadi korban kekerasan. Kekerasan ini diekspresikan melalui banyak cara – kehidupan jalanan dengan mucikari dan bandar obat-obatan terlarang, peperangan, pelecehan seksual, dll. Mungkin kekerasan yang paling buruk bagi anak-anak yaitu pada waktu mereka dipaksa untuk melakukan kejahatan itu sendiri – sering-sering terhadap orang yang memelihara, keamanan, kasih dan perhatian terhadap mereka itu sendiri. Pada waktu anak-anak bertumbuh dalam bentangan kekerasan, biasanya hal itu mengakibatkan kehilangan yang berat atau perpisahan.
Kehilangan atau perpisahan
Anak-anak bisa kehilangan orang tua, saudara-saudara, rumah tangga, dan bahkan negaranya, jika mereka dipaksa untuk lari dari kekerasan. Resikonya, banyak anak harus tinggal di kamp pengungsi atau sebagai anak jalanan. Anak-anak juga mungkin juga kehilangan secara fisik karena kekerasan yang menimpa mereka, seperti kehilangan bagian tubuhnya, yang menyebankan mereka menjadi timpang seumur hidup, atau kehilangan kesehatan, karena tertular penyakit yang didapatkan karena pelecehan seksual. Banyak orang merasa kehilangan yang paling mendalam adalah kehilangan hak dasar mereka sebagai anak, yang disebabkan keterbatasan tanggungjawab , perlindungan oleh orang dewasa dan kebebasan yang terjamin untuk menjelajahi dan menemukan dunia mereka. Mungkin mereka kehilangan semua perasaan yang terbuka akan keingintahuan, anak yang masih lugu.
Eksplotasi ( mengambil kesempatan dalam kesempitan anak-anak dalam keadaan mereka)
Eksplotasi menjadi kombinasi dari kekerasan dan kehilangan. Anak-anak dapat dieksplotasi melalui berbagai cara, termasuk dipaksa untuk melayani sebagai tentara anak, diambil untuk menjadi pekerja anak, atau digunakan sebagai pelacur atau dalam pornografi.
Pengalaman kehilangan, kekerasan dan eksplotasi adalah saling berhubungan dan saling menguatkjan satu dengan yang lainnya, berrotasi dalam lingkaran yang ganas dan sangat merusak. Pengalaman demikian mengakibatkan tiga reaksi dasar secara psikologis:
- Ketakutan – khususnya bagi keamanan dan hari depan mereka dan anggota keluarga mereka. Mereka takut bila tak ada orang yang memperhatikan mereka atau menyediakan makanan bagi mereka atau bahwa mereka tak akan bersekolah lagi. Semua yang mereka saksikan dan alami dalam trauma memperbesar ketakutan mereka.
- Protes – terhadap ketidak adilan dan kejahatan yang menimpa mereka. Bahkan anak-anak kecil secara terbatas memiliki rasa keadilan dan kejujuran dan tahu apa yang sedang terjadi terhadap mereka adalah tidak wajar. Ketidakadilan adalah kekurangan pengertian mengenai akibat trauma dalam kemarahan yang membuat frustrasi, yang sangat berdampak kepada kesejahteraan anak.
- Kesedihan – terhadap kehilangan mereka, khususnya pada waktu mereka menyadari bahwa dalam banyak kasus kehilangan tersebut tidak dapat diganti.
Traumatis namun Sehat
Visual Aid: 6-4
Tanggapan trauma dan emosi ini adalah normal dan merupakan reaksi sehat yang diperlukan dan mendasar bagi anak-anak semasa mereka berupaya melalui pengalaman-pengalaman dan kehilangan. Sebagian anak-anak, khususnya yang mempunyai orang dewasa yang memperhatikan yang dapat menolong mereka menampung perasaan mereka, dan memantulkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan mereka, dapat mengatasi reaksi-reaksi tersebut dan tetap sehat; sedangkan yang lain tak dapat.
Segitiga Kekacauan
Visual Aid: 6-5
Sebagian anak-anak memiliki permasalan yang diakibatkan oleh trauma mereka. Problema –problema ini dapat dimengerti dengan cara terbaik dalam konteks mereka melalui “Segitiga Kekacauan” yang disajikan dengan anak-anak dalam krisis, baik mereka menunjukkan gejala – gejala atau tidak. Segitiga tersebut mewakili:
- Kekacauan dalam diri anak
Pengalaman dan perasaan anak-anak memberitahu mereka bahwa mereka ada dalam situasi yang tak dapat mereka kendalikan, dan yang mereka tidak mengerti. Bagi mereka, peristiwa traumatis tidak memiliki makna yang berarti. Mereka dalam ketakutan yang terus menerus yang tak dapat mereka mengerti dan kendalikan.
- Kekacauan dalam keluarga
Sering sering keluarga dan rumah tangga tidak bisa lagi berfungsi sebagai struktur yang aman dan mendukung seperti sebelumnya. Iman dan kepercayaan mereka dalam kemampuan orang tua untuk memelihara mereka tidak seperti dulu lagi – menjengkelkan. Ada ketakutan dan kekuatiran bahwa orang tua sudah tidak bisa mengendalikan lagi. Peristiwa traumatis ini bukan saja melukai dasar kepercayaan mereka, tetapi juga keterikatan batin mereka. Terputusnya kepercayaan dalam keluarga merintangi kapasitas untuk mempercayai diri mereka sendiri atau orang lain. Itu sebabnya kapasitas untuk menikmati hidup dan merasa aman hancur.
- Kekacauan dalam lingkungan dan masyarakat
Dalam keadaan trauma, anak-anak sering mendapatkan diri mereka tinggal dalam lingkungan yang janggal, tanpa kebutuhan dasar hidup. Stuktur komunitas di sekeliling mereka menjadi asing: sekolah, gereja, pasar, tempat rekreasi, dan struktur lainnya yang mewakili pusat kehidupan komunitas. Tanpa struktur yang sudah biasa bagi mereka, maka kehidupan anak-anak menjadi kacau.
Seseorang mungkin menghadapi dua kemungkinan dalam pendekatan kepada anak yang mengalami segitiga kekacauan – anak yang memiliki gejala-gejala dan yang sama sekali tidak kelihatan gejalanya.
Anak Traumatius dengan gejala-gejala.
Alat Peraga: 6-6
Apabila faktor peredaan (faktor yang membuat situasi tidak separah atau sesakit itu, karena ada sistem pendukung yang mengerti keadaan trauma) tidak berfungsi sebagaimana seharusnya atau tidak bisa mengentaskan trauma, segitiga kekacauan terbentuk dengan sendirinya dalam diri anak. Kebingungan ini membatasi tempat yang ada untuk menciptakan informasi yang datang berkenaan dengan kekerasan, kehilangan, dan eksplotasi. Segitiga kekacauan menghalangi kemampuan anak untuk mengkomunikasikan perasaan yang sesungguhnya dan menyembunyikan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam anak. Sulit bagi seorang anak untuk berhubungan dengan ketakutannya, protesnya dan kepedihannya
Kita harus menyadari bahwa tingkah laku (tubuh) dan gejala-gewjala agresif, kemunduran atau psikosomatis, adalah upayanya untuk menyatakan perasaan dan kebutuhannya. Kalau pendamping dapat mengerti gejala-gejala ini dengan benar akan memungkinkan mengerti pengalaman traumatis anak.
Tingkah laku anak-anak dengan gejala-gejala
Visual aid 6-7
Anak-anak dengn gejala akan bereaksi terhadap kebingungan ini dengan salah satu dari tiga cara ini:
- Tingkah laku agresif ( memukul, menendang, menjerit dan memecahkan barang).
- Tanda-tanda tingkah laku kemunduran (pada umumnya terdapat pada anak-anak yang masih muda – ngompol, menggelendot, bicara seperti bayi). Tingkah laku anak-anak mundur kepada waktu dimana mereka dulu merasa aman.
- Gejala-gejala fisik (sakit kepala, sakit perut, dan hilang nafsu makan).
Pada waktu menunjukkan gejala secara fisik, anak-anak itu sebenarnya tidak sungguh-sungguh sakit melainkan menunjukkan trauma mereka. Sering-sering keluhan ini adalah usaha terakhir untuk berkomunikasi, pada waktu saluran lain buntu. Mereka berupaya untuk menyampaikan kebutuhan mereka akan orang yang bisa mengerti bahwa mereka terluka., sedih, takut dan memprotes. Anak-anak memiliki taraf toleran tertentu terhadap kesedihan sebelum tubuh mereka bereaksi.
Kadang-kadang pendamping dan petugas medis salah mengartikan gejala-gejala tersebut. Contohnya, pada waktu peperangan di Liberia, tingkah laku agresif karena trauma peperangan, disalahtafsirkan sebagai problem tingkah laku, karena anak-anak bereaksi di luar norma kultur yang mengharuskan anak menghormati orang dewasa. Pada waktu mereka dihukum karena dikira bahwa tingkah laku mereka salah, maka anak-anak mengalami trauma dua kali lipat.
Gejala-gejala ini, bisa menjadi sehat bila para pendamping mewaspadai perbedaan apa yang sedang terjadi kepada anak-anak. Gejala tersebut bukan saja membuat Anda waspada pada fakta bahwa ada yang tidak beres, namun juga memberi kesempatan bagi anak-anak untuk membicarakan perasaan yang sesungguhnya. Dimana ada gejala, disana ada harapan.
Anak traumatis yang tanpa gejala-gejala.
Visual Aid 6-8
Ada banyak problema yang lebih serius mengelilingi anak-anak yang, karena kehebatan traumanya sampai tidak menunjukkan gejala trauma sama sekali. Para pendamping harus sangat waspada untuk mengenali anak-anak ini, yang amat sangat menderita dan mempunyai kebutuhan yang paling mendalam akan pertolongan untuk mencegah dalam jangka panjang atau akibat yang terus menerus dari trauma mereka.
Dengan anak-anak ini, segitiga kekacauan menjadi demikian padatnya sehingga seseorang tidak dapat mengira apa yang sedang terjadi dalam diri anak. Anak-anak itu telah kehilangan kemampuan untuk mengkomunikasikan perasaan mereka yang sebenarnya, pikiran, emosi mereka kepada dunia luar. Jiwa anak itu diam.
Tingkah laku anak-anak tanpa gejala
Visual Aid 6-9
Kita mengetahui bahwa anak-anak semacam itu telah kehilangan perlindungan keluarga dan jaringan keamanan, sedangkan anak-anak ini adalah: –
- Lebih seperti orang dewasa, seorang anak yang matang, dengan suasana penolakan.
- Lebih lelah daripada keagresifan
- Lebih kompeten dari agresif, tanpa keluhan medis
- Menolak dengan keras rasa takut apa saja, marah atau derita.
- Merasa diri cukup dengan sikap: “ Oh hidup hanya begitu saja, Saya dapat mengatasinya. Saya dapat mengurusi diri sendiri.”
Anak-anak ini dianggap tabah dan mengagumkan. Namun kita ketahui dan harus ingat bahwa mereka sudah mengalami banyak kekerasan, kehilangan dan penganiayaan. Dari segi psikologis, anak-anak ini menderita trauma yang paling besar dan biasanya lebih memerlukan pemeliharaan jangka panjang daripada anak-anak yang menunjukkan gejala-gejala. Untuk bisa mendapat kesembuhan, para pendamping harus mengusahakan agar anak-anak ini dapat mengkomunikasikan perasaan dan pikiran mereka yang benar.
Memulihkan anak dari Trauma
Empat pelajaran berikutnya akan menjelaskan unsur-unsur pokok untuk memulihkan seorang anak dari trauma.
Strategi ini termasuk —
- Memberi kesempatan untuk melepaskan secara aman perasaan-perasaan (berbicara atau bermain)
- Memberi anak rasa aman yang dapat memberi kebebasan dari gejala-gejala dan tingkah laku pascatraumatis.
- Menolong anak pulih dari rasa misteri dan kendali dalam kehidupan melalui situasi yang tersusun seperti kehidupan yang rutin dan membuat keputusan.
- Memperbaiki kesalahfahaman dan mempersalahkan diri.
- Memulihkan rasa percaya anak dalam dirinya sendiri, bersamaan dengan keyakinan dalam pengharapan bagi masa depan.
- Memperkecil luka trauma melalui menunjukkan pengertian orang lain akan trauma anak, khususnya bagi mereka yang memberikan perhatian / pemeliharaan.
Waktu Berdiskusi anak-anak yang mengalami trauma
Pilihlah 3 peserta untuk memerankan, namun main peran tersebut harus tahu mereka sedang memerankan gambaran siapa.
Ketiga anak-anak yang diperankan adalah:
- Seorang anak yang mengalami trauma namun tetap sehat
- Seorang anak yang mengalami trauma dan sedang menunjukan gejala-gelaja.
- Seorang anak yang mengalami trauma dan tidak menunjukkan gejala-gejala.
Sementara menonton, kelompok akan menerka kategori anak mana yang sedang diperankan dan berikan alasan akan pilihan mereka.
Kegiatan Belajar
- Mintalah para peserta membagi diri ke dalam kelompok studi kasus mereka.
- Minta mereka untuk memeriksa tingkah laku “anak adopsi” untuk menentukan kalau-kalau anak itu tetap sehat secara emosional melalui pengalaman krisisnya atau apakah anak mereka traumatis, dan dengan gejala atau tidak dengan gejala. Sekali lagi, mereka perlu dapat memberilkan alasan alasan untuk pilihan mereka.
- Mintalah kelompok-kelompok memberi umpan balik kepada kelompok besar setelah tugas selesai.
Source:

